SEPAKBOLA

Posted: Maret 30, 2011 in Uncategorized

Minggu ini paling ditunggu. Sudah lama memendam rindu. Terasa deg-degan serasa mau menyatakan cinta ketika masih muda dulu. Semua gara-gara bola yang akhirnya hadir di malam minggu. Hehehe, emang sudah akut nih kerinduan terhadap sepak bola di layar kaca. Mungkin terlalu berlebihan jika gara-gara bola harus sampai kepikiran. Ternyata banyak makna yang tersurat dan tersirat dari permainan 22 orang itu.

Inti tujuan sepakbola adalah kemenangan, dengan kekalahan ada di sisi lain. Kemenangan dan kekalahan yang sering mendatangkan pesta dan air mata. Bahkan ada perhelaan sepakbola yang berujung dengan perang antar Negara di benua amerika. Apakah meraih kemenangan itu harus dengan segala cara, atau apakah memang hanya kemenangan itulah tujuan satu-satunya dari para pemain bola?

Ada yang mengatakan falsafah sebak bola latin adalah Jogo bonito. Keindahan liukan dan tarian pemain yang menghibur penonton. Atraksi dan ekspresi pemain menjadi bintang panggung hijau yang membius puluhan ribu penonton. Ketika keindahan itu berujung kekalahan. Bangsa pun menangis seolah-seolah telah terjadi tragedi nasional. Kadang terasa ironis. Sepakbola dapat menjadi perekat bangsa. Nasionalisme gara-gara bola.

Lain lagi kalo berbicara sepakbola itali. Sikap disiplin dalam menjaga pertahanaan menjadi inti dari sepakbola Italia. Mungkinkah itu sebagai warisan masa lalu atau dampak sejarah peradabannya. Negara yang dulunya penuh dengan epik kekaisaran dan pusat peradaban itu terlibat dalam pertentangan yang memicu perang dunia. Dan itu memerlukan pertahanan Negara yang kuat. Itulah catenacio dalam sepakbola Italia. Konsep permainan yang terkesan mulai luntur dengan serbuan pelatih asing, atau godaang cara permainan dari pemain impornya. Namun Jose Mourinho seolah-olah mendapat habitatnya. “The Special One” tersebut terkenal dengan kekakuan yang pola permainan anak-anaknya cenderung skematis berdasarkan catatan dan rumus-rumus ilmiah dari si pelatih.

Ketika melihat sepakbola ala jerman. Ini lain lagi. Pantang menyerah sebelum waktu habis. Lambat laun semakin bertenaga untuk melabrak musuh yang semakin melemah. Sebuah mesin disel yang diperkuat dengan fanatisme nasionalis yang kental. Sebuah energi besar yang mendorong negara itu sebagai salah satu negara bola papan atas. Ketika dilabrak 5-1 oleh Inggris disaat ketenaran Beckam memuncak yang menurut sebagian orang jerman memuakkan, munculah sentimen yang kadang menggali kembali pertentangan kedua Negara di masa lalu. Lagi-lagi, semua gara-gara bola.

Sepak bola menjadi komoditas kapitalis di Inggris, namun sekaligus tontonan para selebirits. Istilah WAGs pun muncul di sana. Kumpulan para Wives And Girlfriend dari para pemain sepakbola, yang dimotori oleh Victoria Beckam yang kadang mereka membentuk komunitas ekklusif bersama Cheryl Cole, atau Coleen Rooney. Sama seperti suami atau pacarnya, mereka pun diburu oleh paparazzi, namun beritanya bukan tentang sepakbola. Justru yang menjadi headline adalah kehidupan cinta dan bagaimana mereka menghabiskan sebagian uang dari gaji pasangannya. Gaji yang mungkin tidak masuk akal untuk sebagian masyarakat di Negara berkembang. Namun tetap saja para investor (atau spekulan) dari timur-tengah menggelontorkan petro dollarnya ke Negara yang disebut “the mother of football” itu.

Winning is an attitude We must work to establish a desire to practice, play and prepare with winning in mind. This attitude is mandatory among payers and coaches. Itulah kutipan dari sini tentang arti dan makna sebuah filsafat sepakbola, yang lebih cenderung bagaimana meraih kemenangan. Namun apakah kemenangan tersebut harus dengan segala cara, atau tetap menjunjung sportivitas? Sportivitas yang menjiwai etika atau peraturan permainan, temasuk bersikap di lapangan. Namun ketika pemain tersenggol sedikit akhirnya rubuh berguling-guling bak ditinju petinju kelas super berat, apakah itu bentuk sportivitas? Wasit pun sering memberikan “injury time” ketika waktu permainan dikorupsi oleh tindakan mengulur-ngulur waktu dari pihak yang sedang unggul di lapangan

Mencederai sportivitas memamg mencederai filsafat dari sepakbola itu sendiri. Namun biarkanlah semua itu adalah bagian dari panggung sandiwara dengan 22 aktor di lapangan. Toh, saya sendiri tetap merindukan permainan mereka. Bukan untuk belajar arti dari sebuah sportivitas atau merasakan getar-getar nasionalisme- kan tidak sedang menonton PSSI. Namun sekedar memanjakan mata dengan harapan melihat gol-gol indah. Lumayan untuk menghilangkan kepenatan bekerja di masa liburan yang sebentar lagi berakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s